Skip to main content

Transisi Menuju LDM

 Sebenarnya mama bingung banget mau nulis apa dan kebetulan ini adalah minggu ke-5 absen menulis di 1 minggu 1 cerita. Seperti biasa, kalau minggu ini tidak nulis, bisa didepak. Dan mama telah bertahan 2 tahunan belum terdepak 😛

Saat menulis ini, sedang ada ART PP baru yang bekerja di rumah kita. Pertama kalinya dalam riwayat berumah tangga mama punya pembantu. Sampai bingung mau disiruh ngapain, karena tidak ada kerjaan cuci-gosok. Eh ternyata banyak yang bisa dilakukan, hari ini Mama tugaskan Bu Ipah untuk membersihkan dapur dan kamar mandi belakang. Wuihhh dapur cling banget, daerah kotor dekat tempat sampah sudah bersih sekali. 

Tapi ya namanya juga pertama kali, bingung ada orang lain di rumah. Bu Ipah bebersih kamar mandi, mama ikutan nyapu tipis-tipis bagian luar. Masih belum biasa ngga kerja rumah. Tapi Mama harus belajar, untuk kesehatan mental yang akan berdampak ke anak-anak juga. Di balik anak-anak dengan tumbuh kembang baik ada Mama yang SEHAT MENTAL. Betulll...

Minggu lalu, it's been hell. Untuk pertama kalinya selama pandemi, Ayah pergi selama 5 hari. Lama banget rasanya. Mama ga bisa lari ke luar, ga bisa workout sebanyak biasanya. Dan Ammar pun sampai tidak sekolah (padahal hanya 2x online). Ternyata kehadiran Ayah sangat berarti di rumah, biarpun dia kurang bisa (dan kurang inisiatif) untuk beres-beres, tapi hal kecil seperti membuat susu, mencuci botol, atau sekedar mengawasi anak-anak sambil meeting, itu sangat berpengaruh dalam keberjalanan rumah kita. 

Minggu ini pun Ayah pergi ke Bandung selama seminggu, mungkin kita susul mungkin tidak. Tergantung keadaan. Saat ini masih masa percobaan hidup sehari-hari tanpa Ayah.

Eh lucunya, karena pisah beberapa waktu, mata Ayah agak picek liat Mama jadi cantikan. Ya kan emang cantik dari dulu, emang kita tuh suka take things for granted

Oh iya Ibu Ipah, ART kita yang baru, Mama perbolehkan bawa anaknya. Sepertinya ok, bisa main sama Ammar. Semoga ga ada masalah dan jadi bad influence ya. Semoga no drama. Aamiin 


Comments

  1. Mungkin sama yaa kak, walaupun kadang suami gak peka disuruh bantuin pekerjaan rumah tapi tetep aja kayak wajib banget suami tiap hari harus keliatan mata kita.

    ReplyDelete
  2. 🤭 Sama nih kondisinya, saya juga lagi LDM. Meskipun betul suami kayak ga ngapa2in kalau di rumah, tapi pas ngga tinggal bersama, ya Allah, jadi bingung mau ngapain, haha. Biasanya ya dia aja yang dilayani. Semoga bisa cepat tinggal bareng lagi aamiin

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Darurat Pendidikan di Indonesia

This is crazy. So crazy. Kalian tau kan anak-anak bawah mama sangat anti sama yang bodoh. I mean, pengertian bodoh bukannya harus pintar akademik semata, mama percaya setiap orang punya kekuatan di bidangnya masing-masing. Tapi mama sangat berharap masalah akademik, anak-anak bisa di atas rata-rata atau bare minimum, tidak perlu juara.  Ammar sangat pintar di science dan matematika, Caca sangat pintar dalam kesenian, sedangkan Wawa, kita masih amati ya nak kamu kuatnya di mana.

Bulan Pertama LDM

 Hi anak-anak, Mama disini, menulis lagi karena lagi-lagi hampir di depak. Di tahun 2022 ini, keluarga kita harus berpisah untuk sementara dengan Ayah yang ditugaskan ke Pekanbaru. Alhamdulillah, ayah dapat deal lumayan bagus sehingga Ayah bisa minta tiket pesawat PP setiap 2 minggu sekali untuk bertemu kita.  ((lalu ibu-ibu yang LDM pada protes, yaelahh itu mah bukan LDM)) Hehehe iya kurang lama ya. Awalnya mama agak cemas juga sih menjalani hari-hari tanpa Ayah, karena selama hampir 2 tahun, Ayah sudah mulai terlatih untuk mem back up urusan di rumah. Bisa dibilang Ayah kalian sangat hands on  lah urusan anak dan rumah. Ya walaupun standarnya tetap harus diturunkan ya, tapi Alhamdulillah sekali Ayah termasuk laki-laki yang mau "turun" gunung. Mari kita enyahkan patriarki minimal di keluarga kita ya. Ini artinya, kamu, AMMAR, nanti harus bisa juga bantu pekerjaan rumah istri kamu. Setiap 2 minggu Ayah pulang, sampai di rumah Jumat malam, pulang lagi lagi Senin shubuh, ar...

Mama ini agak feminis loh

Anak-anak, ada banyak perubahan dalam diri Mama setelah menikah terutama setelah memiliki anak. Selain Mama menjadi lebih rasis terhadap suku ayah kalian (yang berarti adalah suku kalian) bisa dibilang Mama juga jadi feminis. Hal terkait wanita dan peranannya serta nilainya dalam masyarakat adalah topik sensitif yang bisa membuat Mama menggebu-gebu. Walau jangan disalah artikan bahwa Mama tidak menghormati Ayah ya. Mama pun masih sangat menghargai institusi pernikahan dan merasa sangat beruntung memiliki kalian semua. Beberapa contoh isi sensitif bagi Mama 1. Expiration Date Wanita Ada umur tertentu dimana wanita sudah sangat sulit untuk menikah karena pria seumurannya pun lebih memilih wanita yang lebih muda.  2. Pembagian fungsi Ayah dan Ibu di rumah Masing-masing memiliki tugas utama, namun perlu diingat, satu sama lain harus bisa mengcover. Itu adalah kewajiban bersama, bukan sekedar membantu.  3. Anak laki-laki lebih istimewa dari anak perempuan Kalau ada yang bilang puny...